Pengaruh Obesitas Terhadap Metabolisme Lipid

proses lipogenesis, lipogenesis adalah, mekanisme lipogenesis, proses lipolisis, mekanisme lipolisis, proses lipogenesis, lipolisis adalah, ketogenesis adalah

Pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid atau lemak – Metabolisme merupakan berubahnya seluruh reaksi kimia dalam tubuh sehingga akan ada banyak suatu energi yang dibutuhkan atau pun dikeluarkan. Biasanya metabolisme di bagi menjadi dua arah lintasan reaksi kimia yaitu metabolisme untuk menghasilkan energi dan metabolisme untuk di serap kembali oleh sel-sel tubuh.

Siklus Metabolisme Lipid atau Lemak

Selama ini mungkin sebagian tidak menyangka bahwa suatu saat lipid atau lemak itu sangat dibutuhkan sebagai sumber cadangan energi yang dibutuhkan seperti halnya protein dan karbohidrat dimana bahan-bahan ini pun memiliki kesamaan dengan lipid atau lemak.

Lipid atau lemak salah satu unsur yang baik sebagai sumber cadangan energi selular sebab lemak memiliki rantai karbon yang cukup panjang sehingga termasuk sumber energi paling besar. Selain itu fungsi lipid juga sebagai konduktor panas atau penghantar panas yang paling buruk sehingga lemak akan membantu mencegah terjadinya kehilangan suhu panas di dalam tubuh. Lemak banyak sekali manfaatnya seperti pelindung organ-organ di dalam tubuh dari kerusakan akibat hantaman, benturan dan goncangan sebagai sumber energi maupun pelarut vitamin A, D, E dan K.

Metabolisme lipid merupakan suatu proses senyawa kimia di dalam tubuh dimana asam lemak di cerna oleh tubuh dan di pecah menjadi sumber energi lalu di simpan dalam tubuh manusia untuk cadangan energi apabila energi sedang mengalami kekurangan atau menurun.

Proses metabolisme lipid atau lemak terjadi pada organ hati dan pankreas dengan di proses oleh enzim lipase yang berada pada getah usus dan getah pankreas. Lemak yang didapatkan untuk sumber cadangan energi berasal dari trigliserid. Hasil olahan lemak di dalam tubuh memproduksi asam lemak dan gliserol bahkan unsur monogliserid.

Secara umum baik asam lemak dan monogliserid tidak mudah larut di dalam air dan mesti melalui emulsi lemak kemudian disalurkan ke dalam sel epitel usus. Proses pembentukan unsur-unsur inilah yang nantinya akan berubah menjadi sumber cadangan energi dan lipid. Lipid yang terbentuk kita kenal sebagai lemak untuk berbagai banyak fungsi bagi tubuh.

Metabolisme lipid salah satu proses produktivitas energi dari sumber lemak sesudah masuk menjadi sari-sari makanan dalam tubuh. Dalam metabolisme lipid menjadi cadangan energi memerlukan bantuan glukosa dari karbohidrat. Maka dari itu sebagai orang yang memerlukan energi kerap kali ingin mengonsumsi makanan yang serba karbohidrat termasuk makanan yang terasa manis. Lemak yang berada dalam tubuh akan di proses menjadi metabolisme lipid dengan bentukan trigliserida atau bentuk cadangan lemak dalam tubuh.

Dalam wujud trigliserida, lemak disintetis menjadi asam lemak dan gliserol dengan selalu di bantu oleh glukosa dalam memasuki siklus krebs atau umumnya di sebut dengan TCA baru kemudia memasuki siklus terakhir berupa pembentukan energi.

Asam lemak hasil sintesis, lemak bahanya terdapat beberapa karbon pecahan sebab sel tubuh tidak mampu memproduksi glukosa dari sumber asam lemak begitu pula pada gliserol dimana unsur ini hanya sebagian kecil dari unsur lemak. Pemicu tubuh tidak mampu memproduksi glukosa dari sumber lemak maka organ-organ tubuh tertentu misalnya sistem saraf tidak akan memperoleh cadangan energi dari lemak. Maka oleh sebab itu, proses pembakaran lemak tubuh menjadi sumber cadangan energi tentunya cukup terurai panjang khususnya dengan memperoleh bantuan dari unsur glukosa itu sendiri.

Bekenaan dengan pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid terletak pada sisi positifnya dimana obesitas suatu kondisi dengan kelebihan lemak yang mengakibatkan banyak sekali lipid sebagai sumber cadangan energi bagi tubuh. Namun, tidak semua lemak memiliki banyak fungsi bagi tubuh sebab jaringan lemak yang terkumpul sedemikian rupa di dalam tubuh akan berakibat patal terutama pada kesehatan fisik ataupun mental seseorang.

Pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid tentu dalam hal ini sangat ada keterkaitannya dimana fungsi lemak itu sendiri adalah sebagai sumber cadangan energi bagi tubuh di masa yang akan datang saat sedang dibutuhkan. Maka lain halnya dengan suatu kondisi obesitas dimana hal ini sangat jarang sekali memperoleh metabolisme lipid yang serba kekurangan atau termasuk golongan metabolisme lipid yang berlebihan.

Obesitas akan sangat berpengaruh pada metabolisme lipid dimana akan menimbulkan dua resiko besar kedepannya dimana akan terjadi suatu kondisi tertentu antara lain :

Mortalitas

Obesitas merupakan kategori pemicu angka kematian terbesar yang dapat di cegah. Berbagai kajian ilmiah tentang adanya tata lakasana dalam membantu mengupayakan hidup sehat agar terbebas dari kondisi obesitas atau kegemukan. Tata laksana yang dari dahulu hingga kini senantiasa dilaksanakan dalam membantu mengantisipasi kondisi obesitas berupa diet makanan dan aktivitas fisik setiap hari.

Morbiditas

Obesitas dapat memicu peningkatan berbagai potensi buruk yang berasal dari gangguan fisik atau pun gangguan mental. Berikut beberapa potensi besar dari faktor resiko komordibitas dengan adanya sindrom metabolik seperti kadar kolesterol naik, trigliserida berlebihan, hipertensi dan gula darah naik atau berlebihan. Selain itu juga faktor mordibitas dari suatu kondisi obesitas akan memicu reaksi komplikasi penyakit secara tidak langsung.

Hubungan Obesitas dengan Berbagai Faktor Biologis

Faktor-faktor penyebab terjadinya suatu kondisi obesitas pada seseorang diantaranya sebagai berikut :

Setiap masyarakat dengan perpaduan antara kelebihan konsumsi makanan dengan jarang sekali beraktivitas fisik maka sudah dipastikan berpotensi besar pada kondisi obesitas. Alasan yang mendukung lainnya diakibatkan oleh faktor keturunan, gangguan medis dan masalah psikis maupun kejiwaan yang dihadapinya. Lain juga dengan laju pertumbuhan obesitas yang secara umum sebagai akibat dari modernisasi semakin maju yang hanya mengandalkan pesawat sederhana atau pun mekanisme mesin dan mengabaikan sumber daya manusia seutuhnya.

Di bawah ini beberapa penyebab lain dari kondisi obesitas yang bisa saja memberikan dampat cukup buruk bagi kesehatan diantaranya sebagai berikut :

■ Faktor sleep disorder atau kurang istirahat.

■ Efek lingkungan yang tidak nyaman, polusi area sekitar dan pengaruh dari metabolisme lipid.

■ Penurunan vaiabilitas suhu lingkungan yang di kenal sebagai perubahan cuaca.

■ Banyaknya perokok pasif (non perokok) dimana kegiatan merokok dapat bereaksi pada penekanan nafsu makan sehingga tidak berselera dalam makan ataupun minum.

■ Banyaknya para pasien obesitas yang selalu memanfaatkan berbagai obat-obatan tertentu sehingga meningkatkan resiko kenaikan berat badan termasuk pula kolesterol tinggi.

■ Populasi manusia yang semakin bertambah sehingga secara tidak langsung memberi peluang dalam meningkatnya postural tubuh.

■ Faktor usia juga menjadi pendukung utama dalam hal laju peningkatkan berat badan.

■ Menginjak periode hamil dan usai melahirkan. Mungkin selama ini banyak sekali kalangan wanita yang sehabis bersalin sangat rentan gemuk sebagai akibat gangguan pada metabolisme lipid di dalam tubuhnya. Maka dari itu penting untuk wanita hamil selepas bersalin untuk menjaga pola makan yang sehat dan seimbang.

■ Faktor seleksi alam. Suatu evolusi dimana semua makhluk hidup akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan misalnya dengan terjadinya peningkatan hormon-hormon dalam tubuh sebagai pemicu kondisi obesitas.

Adapun hubungan obesitas dengan hormon-hormon tubuh diantaranya :

Obesitas dengan Hormon Insulin

Terdapat suatu hubungan khusus antara kondisi obesitas dengan hormon insulin dimana hormon insulin sangat penting sekali dalam mengatur karbohidrat dan metabolisme lipid. Hormon insulin tugasnya merangsang penyerapa glukosa (gula) dari darah pada jaringan otot, hati dan perlemakan.

Secara umum pengidap obesitas, hormon insulin secara tiba-tiba hilang atau berkurang dengan seketika jaringan tubuh tidak berdaya mengontrol kadar glukosa dalam darah. Kondisi tersebut dapat berpotensi besar pada kasu penyakit diabetes tipe II dan sindrom metabolik.

Obesitas dengan hormon Seks

Pada kalangan wanita yang pra menopause, hormon seks berupa estrogen sangat dibutuhkan dan diproduksi cukup banyak oleh ovarium. Begitu juga dengan hormon estrogen pada pria dewasa yang hanya sedikit sekali di produksi di dalam testis buah zakar. Berkaitan dengan hal ini hormon estrogen akan diproduksi secara langsung oleh lemak saat pasca menopause wanita dan kalangan pria juga akan menghasilkan hormon androgen seiring pertambah usia hingga produksinya juga turut menurun.

Perubahan hormon seks pria dan wanita akan berpengaruh pada perubahan distribusi lemak tubuh. Sementara wanita usia subur cenderung menyimpan lemak tubuh mereka di bagian bawah tubuh, pria yang lebih tua dan wanita pasca-menopause cenderung menyimpan lemak mereka di sekitar perut. Pada wanita pasca-menopause yang mengonsumsi suplemen estrogen, tidak terjadi penumpukan lemak di sekitar perut mereka. Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa minimnya jumlah estrogen akan menyebabkan kenaikan berat badan yang berlebihan.

Obesitas dan Hormon Leptin

Leptin adalah unsur yang di produksi oleh lemak dimana memiliki kadar yang berbeda-beda pada setiap orang dengan lebih banyak pada berat badan orang yang normal. Hormon ini sebenarnya berasal dari produktivitas sel-sel lemak dan disekresikan ke dalam aliran darah. Berbagai dampaknya akan berpengaruh pula pada fungsi-fungsi otak, menurunkan selera makan dan mengendalikan tubuh untuk mengelola lemak.

Obesitas dengan Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan selama ini sangat dibutuhkan dengan diproduksi oleh kelenjar pituitari di dalam otak. Hormon pertumbuhan akan berpengaruh besar pada tinggi badan, membantu meningkatkan masa otot dan tulang dan mengontrol metabolisme tubuh. Para peneliti menemukan bahwa kadar hormon pertumbuhan pada orang yang mengalami obesitas lebih rendah daripada orang yang memiliki berat badan normal.

Hormon merupakan pengirim pesan kimiawi yang mengontrol proses dalam tubuh dan bisa berisiko pada kondisi obesitas seseorang. Hormon insulin dan leptin, hormon seks dan hormon pertumbuhan dapat mempengaruhi nafsu makan, distribusi lemak tubuh dan metabolisme (kemampuan tubuh dalam membakar energi). Orang yang mengalami obesitas memiliki kadar tertentu hormon yang membuat metabolisme menjadi abnormal dan akumulasi lemak tubuh.

Sistem kelenjar pada tubuh manusia yang di sebut sebagai sistem endoktrin mengirimkan hormon pada aliran darah manusia. Sistem endoktrin akan bekerjasama dengan sistem saraf dan sistem daya tahan tubuh untuk membantu melaksanakan berbagai aktivitas fisik termasuk pula mengontrol tingkat stres. Gangguan berupa peningkatan dan penurunan hormon akan memacu tubuh seseorang menjadi gemuk atau obesitas. Maka dari itu penting mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan hormon-hormon manusia.

Menurut sumber kajian badan kesehatan dunia atau WHO memperoleh analisis bahwa perkembangan teknologi modern akan membentuk pola sifat manusia yang enggan melakukan aktivitas fisik terlebih bagi kalangan yang obesitas. Umumnya kalangan yang obesitas lebih sering mengonsumsi makanan tinggi energi dan lemak dibandingkan berolahraga. Maka dari itu, menurut WHO, kondisi biologis berupa obesitas termasuk salah satu epidemi global yang mesti cepat ditangani.

Sebagai salah satu penyebab munculnya kondisi obesitas berdasarkan kajian para ahli menegaskan bahwa obesitas di picu berbagai faktor diantaranya seperti ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan sehingga memaksa tubuh menyimpang cadangan energi dalam bentuk jaringan lemak secara berlebihan.

Obesitas merupakan masalah yang rumit, dan untuk mengerti penyebabnya dibutuhkan tinjauan kasus demi kasus. Manifestasi klinis dan komplikasi yang sering ditemukan pada obesitas antara lain hipertensi, penyakit arteri koroner, kegagalan jantung, infeksi saluran napas, diabetes mellitus, osteoarthritis, dan sebagainya.  Hubungan antara angka kejadian hipertensi dan berat badan meningkat tajam sesuai peningkatan berat badan.

Dalam hal ini pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid akan sangat memengaruhi pada kondisi medis seseorang seperti terjadinya berbagai komplikasi dari mula penyakit jantung koroner, penyakit kardiovaskular hingga gejala kencing manis.

Faktor penyakit jantung koroner sebenarnya sebagai akibat dari terlalu seringnya mengonsumsi makanan berlemak tinggi khususnya makanan yang kaya dengan lemak jenuh. Apabila lemak jenuh terus menerus di konsumsi tanpa memperhatikan batasan energi maka sudah dapat dipastikan akan rentan mengalami kolesterol tinggi dan penyakit jantung koroner.

Sementara penyakit kardiovaskular atau sistem pernafasan akan membentuk suatu kondisi buruk berupa peningkatan kadar gula darah dalam tubuh atau diabetes, trigliserida, kolesterol jahat, hipertensi dan gangguan ortopedik sebagai akibat kegemukan atau kelebihan berat badan.

Asam lemak yang diproses pada jaringan hari dan pankreas akan memiliki kesamaan dengan hormon insulin dimana terjadi kendala tidak memadainya hormon insulin pada pankreas yang menyebabkan glukosa tidak bisa berubah menjadi glikogen dan pada akhirnya gula darah menjadi semakin tinggi. Sementara kejian seperti ini dimana glukosa dalam darah yang sebagian besar akan di buang melalui urine. Gejala yang dirasakan ketika gula darah naik adanya kejadian kencing manis, sering merasa harus, nafsu makan terus meningkat tetapi bersamaan dengan penurunan berat badan.

Hasil kajian ilmiah yang tengah diteliti dengan memperoleh kepastian bahwa kondisi penyakit diabetes hanya dapat di atasi dengan konsumsi serat setiap harinya dan melalui diet sehat seimbang. Maka sangat penting bagi semua kalangan obesitas yang menderita kencing manis untuk selalu diet sehat terutama berpuasa bagi yang mampu, karena hanya dengan berpuasa tidak hanya menyehatkan fisik tetapi sangat baik dalam menyehatkan jiwa atau rohani.

Pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid sangat berkaitan pada berbagai fungsi metabolisme secara keseluruhan. Bahkan menurut penelitian yang didasarkan pada kajian para ahli menunjukkan adanya kebiasaan pengidap obesitas yang selalu makan di malam hari menjelang tidur. Hal tersebut tentu sangat tidak dianjurkan bagi kesehatan karena proses metabolisme tidak akan berjalan jika keadaan sudah istirahat.

Adakalanya suatu kondisi obesitas yang selama ini menjadi kebanggaan diri akan sulit untuk merubahnya menjadi lebih baik. Maka baik kalangan pria atau pun wanita yang mengalami kondisi obesitas dianjurkan mengikuti tata laksana sebagai upaya pencegahan keluhan kesehatan dengan kondisi obesitas.

Berikut beberapa tata laksana hingga kini sering banyak dilakukan untuk upaya penurunan berat badan diantaranya :

■ Selalu diet rendah lemak dengan tidak mengonsumsi makanan berlemak tinggi.

■ Selalu melaksanakan aktivitas fisik yang tidak memberatkan terlebih jika kalangan obesitas tidak sanggup untuk menjalankannya.

■ Senantiasa berpuasa bagi pemeluk agama yang taat karena hanya dengan berpuasa sudah dipastikan segala keluhan kesehatan akan berkurang sehingga memperoleh kesehatan fisik dan psikis.

Demikian pembahasan mengenai pengaruh obesitas terhadap metabolisme lipid yang mudah-mudahan dapat bermanfaat dan mohon maaf sekiranya jika terdapat penulisan yang serba kekuranngan.